Survei terhadap pelajar sekolah menengah menemukan bahwa hampir separuh responden tidak pernah menerima informasi kesehatan reproduksi dari sumber resmi. Yang mereka tahu sebagian besar berasal dari media sosial dan teman sebaya, dengan tingkat akurasi yang beragam.
Ketidaktahuan ini punya konsekuensi konkret. Remaja perempuan yang tidak mengenali siklus menstruasinya sendiri lebih lambat menyadari ketika ada yang tidak normal, dan lebih enggan memeriksakan diri karena tidak tahu apa yang wajar ditanyakan.
Guru yang mencoba mengisi celah ini mengaku terbatas. Sebagian memilih tidak membahas topik tertentu karena khawatir ditentang orang tua, sehingga materi yang disampaikan sangat umum dan kurang berguna.
Organisasi kesehatan menyarankan pendekatan yang melibatkan orang tua sejak awal, sehingga informasi yang diterima remaja di sekolah dan di rumah tidak saling bertentangan.
Terima kasih liputannya, ini isu yang jarang dibahas.
Semoga ada tindak lanjut dari pemerintah daerah.
Bagian tentang data memang paling penting di sini.
Saya mengalami hal serupa di tempat kerja saya.
Menarik, tapi rasanya perlu perspektif dari daerah lain juga.
Apakah ada nomor layanan pengaduan yang bisa dihubungi?
Laporan seperti ini yang saya tunggu-tunggu.
Terima kasih sudah mengangkat pengalaman korban dengan hati-hati.
Terima kasih liputannya, ini isu yang jarang dibahas.