Sejumlah layanan pengaduan melaporkan lonjakan laporan kekerasan dalam rumah tangga selama periode libur panjang, dengan kenaikan antara tiga puluh hingga lima puluh persen dibanding bulan biasa. Pola ini berulang setiap tahun dan sudah lama dikenali penyedia layanan.
Petugas pendamping menjelaskan bahwa libur panjang membuat korban lebih sulit mencari bantuan karena terisolasi bersama pelaku, sementara jaringan dukungan seperti tempat kerja dan sekolah anak justru tutup. “Justru saat semua orang libur, kami paling sibuk,” kata seorang pendamping di rumah aman.
Keterbatasan tempat penampungan menjadi masalah paling mendesak. Dari sepuluh rumah aman yang dihubungi, tujuh menyatakan penuh dan terpaksa menolak permintaan rujukan, sebagian menawarkan penampungan sementara di fasilitas umum.
Penyedia layanan mendesak pemerintah daerah menambah kapasitas rumah aman dan memastikan hotline pengaduan tetap beroperasi penuh selama masa libur.
Terima kasih liputannya, ini isu yang jarang dibahas.
Semoga ada tindak lanjut dari pemerintah daerah.
Bagian tentang data memang paling penting di sini.
Saya mengalami hal serupa di tempat kerja saya.
Menarik, tapi rasanya perlu perspektif dari daerah lain juga.
Apakah ada nomor layanan pengaduan yang bisa dihubungi?
Laporan seperti ini yang saya tunggu-tunggu.
Terima kasih sudah mengangkat pengalaman korban dengan hati-hati.
Terima kasih liputannya, ini isu yang jarang dibahas.
Semoga ada tindak lanjut dari pemerintah daerah.
Bagian tentang data memang paling penting di sini.
Saya mengalami hal serupa di tempat kerja saya.