Saat ia pertama kali dicalonkan memimpin serikat, ada yang bertanya apakah perempuan bisa tegas di meja perundingan. Pertanyaan itu, katanya, justru membuatnya yakin harus maju. Ia menang dengan selisih suara tipis dan memimpin selama tiga periode berturut-turut.
Pendekatannya berbeda dari pendahulunya. Ia lebih banyak mendengar sebelum berbicara, mengumpulkan keluhan pekerja satu per satu, lalu membawanya ke meja perundingan sebagai data, bukan sebagai emosi. Tingkat kesepakatan yang dicapai naik, dan jumlah aksi mogok turun.
Yang paling ia banggakan bukan kenaikan upah, melainkan perubahan kecil: tersedianya ruang laktasi di dua pabrik, dan aturan bahwa pekerja yang sedang hamil tidak lagi ditempatkan pada shift malam tanpa persetujuannya.
Ia mengaku lelah, tetapi belum berniat mundur. “Selama masih ada yang harus saya bawa ke meja itu, saya masih di sini.”
Terima kasih liputannya, ini isu yang jarang dibahas.
Semoga ada tindak lanjut dari pemerintah daerah.
Bagian tentang data memang paling penting di sini.
Saya mengalami hal serupa di tempat kerja saya.
Menarik, tapi rasanya perlu perspektif dari daerah lain juga.
Apakah ada nomor layanan pengaduan yang bisa dihubungi?
Laporan seperti ini yang saya tunggu-tunggu.
Terima kasih sudah mengangkat pengalaman korban dengan hati-hati.
Terima kasih liputannya, ini isu yang jarang dibahas.
Semoga ada tindak lanjut dari pemerintah daerah.
Bagian tentang data memang paling penting di sini.
Saya mengalami hal serupa di tempat kerja saya.
Menarik, tapi rasanya perlu perspektif dari daerah lain juga.