Dua puluh tahun lalu, ia mulai mengajar di sekolah dengan satu ruang kelas dan dua puluh murid. Yang ia ingat pertama bukan soal buku, tetapi bahwa sebagian muridnya datang setelah membantu berjualan di pasar sejak subuh. Mereka mengantuk, dan tidak ada yang bisa disalahkan.
Dari situ ia mulai mengubah cara mengajar. Materi pelajaran diambil dari hal-hal yang muridnya kenal — harga barang, jarak, ukuran karung — sehingga matematika tidak lagi terasa seperti bahasa asing. Nilai ujiannya naik, tetapi yang lebih penting, muridnya mulai bertanya.
Metodenya kemudian dicatat oleh dinas pendidikan dan diadopsi sekolah lain di kabupaten yang sama. Ia sendiri enggan menyebutnya inovasi. “Saya hanya mengajar anak-anak yang ada di depan saya,” katanya.
Sekarang usianya mendekati masa pensiun, dan ia sedang melatih guru-guru muda di daerahnya untuk melakukan hal yang sama: melihat dulu siapa yang diajar, sebelum memutuskan apa yang diajarkan.
Terima kasih liputannya, ini isu yang jarang dibahas.
Semoga ada tindak lanjut dari pemerintah daerah.
Bagian tentang data memang paling penting di sini.
Saya mengalami hal serupa di tempat kerja saya.
Menarik, tapi rasanya perlu perspektif dari daerah lain juga.
Apakah ada nomor layanan pengaduan yang bisa dihubungi?
Laporan seperti ini yang saya tunggu-tunggu.
Terima kasih sudah mengangkat pengalaman korban dengan hati-hati.
Terima kasih liputannya, ini isu yang jarang dibahas.
Semoga ada tindak lanjut dari pemerintah daerah.