Sebuah artikel menyebutkan bahwa perempuan jauh lebih mudah percaya pada hoaks kesehatan dibanding laki-laki, dan mengaitkannya dengan tingkat pendidikan. Klaim ini cukup sering dikutip, terutama untuk menyalahkan korban penipuan kesehatan.
Penelusuran menunjukkan temuan penelitiannya lebih rumit. Perempuan memang lebih sering menjadi sasaran konten kesehatan karena mereka memang lebih banyak mengelola urusan kesehatan keluarga — termasuk untuk anak dan orang tua. Jadi paparannya lebih besar, bukan kerentanannya.
Ketika peneliti mengukur paparan dan kerentanan secara terpisah, perbedaan antara perempuan dan laki-laki menyusut hampir sepenuhnya. Yang tersisa adalah perbedaan jenis konten yang diterima, bukan kemampuan menilainya.
Kesimpulan: klaim tersebut menyesatkan. Menyalahkan kelompok yang paling banyak menerima informasi kesehatan justru mengalihkan perhatian dari masalah sebenarnya, yaitu terbatasnya akses informasi yang tepercaya.
Terima kasih liputannya, ini isu yang jarang dibahas.
Semoga ada tindak lanjut dari pemerintah daerah.
Bagian tentang data memang paling penting di sini.
Saya mengalami hal serupa di tempat kerja saya.
Menarik, tapi rasanya perlu perspektif dari daerah lain juga.