Novel ini dibuka dengan sebuah pemakaman, lalu berjalan mundur untuk menceritakan bagaimana tokoh utamanya sampai di sana. Struktur mundur itu bukan gimmick: ia memaksa pembaca melihat bahwa setiap pilihan yang tampak salah punya alasan yang masuk akal pada waktunya.
Yang paling menyegarkan adalah penolakan penulis untuk menjadikan tokoh utamanya sekadar simbol penderitaan. Ia marah, ia salah, ia egois, dan ia tidak selalu bisa dimaafkan. Keutuhan itulah yang membuat ceritanya terasa seperti orang sungguhan, bukan perwakilan sebuah isu.
Latarnya — sebuah kota kecil dengan pabrik yang mulai tutup — digambarkan tanpa sentimentalitas berlebihan. Ekonomi yang menyusut bukan sekadar dekorasi, melainkan kekuatan yang menentukan siapa boleh pergi dan siapa harus tinggal.
Bagi pembaca yang lelah dengan narasi perempuan yang selalu berakhir sebagai pelajaran bagi orang lain, buku ini menawarkan sesuatu yang lebih jujur dan jauh lebih menarik.
Terima kasih liputannya, ini isu yang jarang dibahas.
Semoga ada tindak lanjut dari pemerintah daerah.
Bagian tentang data memang paling penting di sini.
Saya mengalami hal serupa di tempat kerja saya.
Menarik, tapi rasanya perlu perspektif dari daerah lain juga.
Apakah ada nomor layanan pengaduan yang bisa dihubungi?
Laporan seperti ini yang saya tunggu-tunggu.
Terima kasih sudah mengangkat pengalaman korban dengan hati-hati.
Terima kasih liputannya, ini isu yang jarang dibahas.